BUDAYA KEPEMIMPINAN SISWA

Posted: June 20, 2010 in BLOG WRITING

Pemahaman tentang budaya organisasi sesungguhnya tidak lepas dari konsep dasar tentang budaya itu sendiri, yang merupakan salah satu terminologi yang banyak digunakan dalam bidang antropologi. Dewasa ini, dalam pandangan antropologi sendiri, konsep budaya ternyata telah mengalami pergeseran makna. Sebagaimana dinyatakan oleh C.A. Van Peursen (1984) bahwa dulu orang berpendapat budaya meliputi segala manifestasi dari kehidupan manusia yang berbudi luhur dan yang bersifat rohani. Budaya organisasi dapat dipandang sebagai sebuah sistem, Mc Namora (2002) mengemukakan bahwa dilihat dari sisi input budaya organisasi mencakup umpan balik (feed back) di masyarakat, profesi, hukum, kompetensi dan sebagainya. Budaya yang adaptif berangkat dari logika bahwa hanya budaya yang dapat membantu organisasi mengantisipasi dan beradaptasi dengan perubahan lingkungan dan diasosiasikan dengan kinerja yang superior sepanjang waktu.

Pentingnya membangun budaya organisasi di sekolah terutama berkenaan dengan upaya pencapaian tujuan pendidikan sekolah dan peningkatan kinerja sekolah. Sebagaimana disampaikan oleh Stephen Stolp (1994) tentang School Culture yang dipublikasikan dalam ERIC Digest, dari beberapa hasil studi menunjukkan bahwa budaya organisasi di sekolah berkorelasi dengan peningkatan motivasi dan prestasi belajar siswa serta kepuasan kerja dan produktivitas guru.

Upaya untuk mengembangkan budaya organisasi di sekolah terutama berkenaan tugas OSIS di sekolah. Dalam hal ini, ketua OSIS hendaknya mampu melihat lingkungan sekolahnya secara holistik, sehingga diperoleh kerangka kerja yang lebih luas guna memahami masalah-masalah yang sulit dan hubungan-hubungan yang kompleks di sekolahnya. Melalui pendalaman pemahamannya tentang budaya organisasi di sekolah, maka ia akan lebih baik lagi dalam memberikan penajaman tentang nilai, keyakinan dan sikap yang penting guna meningkatkan stabilitas dan pemeliharaan lingkungan belajarnya.

Kebudayaan mengikat para anggota yang dilingkupi kebudayaan itu untuk berperilaku sesuai dengan budaya yang ada. Apabila pengertian ini ditarik kedalam organisasi, maka apabila seperangkat norma sudah menjadi budaya dalam organisasi, maka para anggota organisasi akan bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan budaya itu tanpa merasa terpaksa. Apabila budaya itu adalah budaya yang bersifat mengarahkan kepada anggota organisasi untuk mempunyai kinerja yang baik, maka dapat dipastikan apabila memang semua anggota organisasi sudah menganggap norma itu sebagai budaya, maka ia akan melaksanakanya dengan baik. Akhirnya pelaksanaan budaya itu akan menghasilkan output kinerja yang baik. Namun sebaliknya, jika budaya kepemimpinan siswa di sekolah menghasilkan input kinerja yang berdampak buruk disebabkan karena faktor-faktor yang timbul dalam perjalanannya, diantaranya :

  1. Tidak terdapat keteraturan cara bertindak pemimpin maupun anggota siswa.
  2. Tidak mematuhi berbagai standar perilaku yang ada, termasuk di dalamnya tentang pedoman sejauh mana suatu pekerjaan harus dilakukan.
  3. Tidak adanya nilai-nilai inti yang dianut bersama oleh seluruh anggota organisasi.
  4. Tidak adanya kebijakan-kebijakan yang berkenaan dengan keyakinan organisasi dalam memperlakukan pemimpin dan anggotanya.
  5. Tidak adanya pedoman yang ketat, dikaitkan dengan kemajuan organisasi.
  6. Tidak terdapat perasaan keseluruhan (an overall “feeling”) yang tergambarkan dan disampaikan melalui kondisi tata ruang, cara berinteraksi para anggota organisasi, dan cara anggota organisasi memperlakukan dirinya dan anggotanya atau orang lain.

Kepemimpinan Siswa di masa mendatang diharapkan agar memiliki perilaku budaya dan dasar komitmen nilai-nilai yang sesuai standar organisasi di sekolah. Diantaranya adalah memiliki tim kerja yang tangguh sesuai dengan posisi yang dimilikinya. Dengan tim kerja yang tangguh diharapkan fungsi kontrol akan berjalan lebih efektif dan efisien. Konflik-konflik atau deviasi kerja bisa ditekan seminim mungkin dengan kepemimpinan yang kuat dari seorang ketua Osis dan ketua kelas. Mekanisme hubungan sesama anggota siswa pun dapat berjalan intensif.

DAFTAR PUSTAKA


http://nucleus-smart.blogspot.com/2010/05/mengembangkan-bakat-kepemimpinan-pada.html
(Diakses tanggal 16 Juni 2010 Pukul 10.00)

http://www.psb-psma.org/content/blog/budaya-organisasi-di-sekolah(Diakses tanggal 16 Juni 2010 Pukul 10.00)

http://ronawajah.wordpress.com/2009/05/15/kekuatan-sebuah-tim-kerja/(Diakses tanggal 16 Juni 2010 Pukul 10.00)

http://arjana-stahn.blogspot.com/2010/01/kajian-etika-dan-filsafat-hedonisme.html(Diakses tanggal 16 Juni 2010 Pukul 10.00)

Comments
  1. mickyardana says:

    Waah,, bagus banget tulisannya dan sangat bermanfaat bagi semua orang,,
    Terus Maju dan semangat dan sering nulis ya,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s